Laman

Sabtu, 19 Januari 2013

MENDALAMI FILSAFAT MELALUI TANYA JAWAB




          Perkuliahan filesafat pendidikan matematika oleh Prof. Dr. Marsigit M.A, pada hari Senin tanggal 17 Desember 2012 dimulai dengan tes jawab singkat tentang filsafat. Setelah selesai, perkuliahan dilanjutkan dengan tanya jawab filsafat. Berikut adalah ringkasan tanya jawab antara mahasiswa dengan Prof. Dr. Marsigit M.A,:
1.    Lina Dwi Aris : Apa yang dimaksud dengan angin dan hakekatnya?
Jawab : Dalam filsafat suatu objek itu berdimensi. Dimensi yang paling primitif adalah dengan intuisi yaitu misal sejak kapan mengenal. Jika kamu tidak dapat menjawab sejak kapan kamu mengenal angin, maka kamu termasuk kaum intusionisme. Intuisi sangat penting di dalam hidup ini karena 90% dalam hidup kita menggunakan intuisi. Seperti kata enak, besar, kecil, banyak dll adalah jenis kata yang diperoleh melalui intuisi. Interaksi kita dengan orang adalah upaya untuk memperoleh pemahaman intuisi, kemudian terbentuk di dalam pikiran. Dala berfilsafat ada empat langkah yaitu material, formal, normatif, dan spiritual. Angin secara formal disebut juga sebagai badai, angin ribut atau topan. Dalam normatif angin adalah angin secara geografi yaitu angin adalah pergerakan. Secara spiritual pengertian angin di dalam kitab suci.

2.    Eka Budiarti: Apa hakekat dari perceraian dalam kehidupan?
Jawab: Bercerai tidak bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari tanpa melihat dokumennya. Secara spiritual, Tuhan tidak menyukai orang yang bercerai. Secara formal, perceraian diatur dalam undang-undang. Secara normatif, bercerai itu mengenai baik buruk suatu perceraian. Perceraian sangat perlu didefinisikan sebab sebagai dasar hukum berikutnya yaitu tentang harta gono gini.

3.    Nurmanita Prima : Jika dalam suatu kejadian ada seseorang telah menikah, mana yang lebih diutamakan antara pasangan hidup kita dan orangtua kita?
Jawab: Yang diutamakan adalah komunikasi. Komunikasi disini maksudnya adalah agar hubungan tetap terjalin dengan baik, maka kita gunakan komunikasi dalam berinteraksi dengan semua orang termasuk pasangan dan orangtua kita.

4.    Conny Devilita: Apa hakekat kepercayaan dan keyakinan dalam tinjauan agama?
Jawab: Ada term atau pengertian yang berkembang misal Aceng Fikri yang telah berkonotasi negatif. Demikian juga dengan kepercayaan, bahwa kedua kata ini yaitu kepercayaan dan keyakinan mempunyai arti yang disamakan. Dalam peraturan perundang-undangan juga telah disebutkan tentang aliran kepercayaan. Secara spiritual saya lebih memilih kata keyakinan untuk merepresentasikan agama kita.

5.    Rudy Prasetyo: Bagaimana menghadapi kekalahan agar tidak semakin terpuruk?
Jawab: Orang yang dapat menghibur orang yang sedang terpuruk adalah apabila pangkatnya lebih tingg didengarkan agar penghiburannya. Dalam menghadapi kekalahan maka hendaknya kita selalu berusaha dan berdoa. Kegagalan dapat digunakan sebagai motivasi untuk bangkit, berjuang dan bertahan di dalam hidup ini. Menumbuhkan semangat ketika gagal adalah dengan berkomunikasi dengan orangtua atau teman dekat.

6.    Tri Wahyuni: Mengapa ada pro dan kontra? Mengapa bisa begitu?
Jawab: Dua hal tersebut adalah kodrat. Seperti, siang dan malam, laki-laki dan perempuan. Di dalam hidup memang harus ada pro dan kontra. Pro dan kontra didalam pikiran adalah ilmu, jika di dalam hati itu adalah godaan setan.

7.    Yunia Indri: Mana yang disebut dengan dewa antara orangtua dan anak muda? Apa ciri-ciri dewa?
Jawab: Dewa itu sesuai dengan ruang dan waktu. Setiap yang ada dan yang mungkin ada dapat disebut sebagai dewa. Antara orangtua dan anak muda ada hal yang tidak bisa dikalahkan oleh anak muda dari orangtua yaitu usia. Sekali kita bisa mengejar usia orangtua maka kita tidak akan bisa kembali. Oleh karena itu janganlah kita sombong.

8.    Ermitasari :Mengapa banyak gejala alam yang semakin kompleks?
Jawab: Sebagai orangtua semakin pikun maka semakin sederhana karena semakin banyak yang dilupakan. Bagi kita semakin kompleks, maka semakin paham pula pemahaman kita.

TANYA JAWAB FILSAFAT




          Perkuliahan filsafat pada hari Senin tanggal 10 Desember 2012 dimulai dengan tes jawab singkat dari Bapak Prof. Marsigit. Setelah selesai kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab yang dirangkum seperti berikut ini:
1.    Yulian Angga: Apakah semua yang ada di dunia ini memiliki pola?
Jawab: Sebuah pola bukanlah pola bagi orang yang tidak memahaminya. Sebuah jalan bukan jalan bagi orang yang tidak memahaminya. Bagi orang orang yang memahami dan mempercayainya semuanya telah dirancang oleh Tuhan sedemikianrupa sehingga semuanya berpola namun kita tidak dapat melihat pola yang telah diciptakan oleh Tuhan.

2.    Rina Susilowati: Apa hakekat perbedaan dalam persatuan? Kapan sesuatu itu disebut dengan mimpi?
Jawab: Orang berbeda dalam banyak hal namun dpat bersama dalam beberapa hal. Semua orang berbeda namun juga sama. Sama-sama manusia, sama-sama hidup, sama-sama mati. Tapi tidak ada manusia yang sama, karena manusia terikat oleh orang dan waktu. Dalam filsafat itu tergantung apa yang dianggap sama dan apa yang dianggap berbeda.
Mimpi itu bisa diingat kembali atau tidak, tergantung dari kualitasnya. Kualitas mimpi itu rendah dan tinggi, tergantung dari pengalaman hidupnya. Mimpi itu bisa didekati dengan ilmu psikologi.

3.    Ermitasari: Apa perbedaan antara cinta dan sayang?
Jawab: Cinta dan sayang itu kontekstual dan berdimensi. Cinta dan sayang itu sama-sama intuisi. Kita sebagai manusia tidak bisa mendefinisikan apa itu cinta, namun hanya bisa mengkarakteristikan orang yang cinta kepada seseorang. Membedakan cinta dan sayang adalah dengan menggunakan intuisi, artinya semua pengalaman dan orang-orang yang ada di sekitar kitalah yang membedakan antara cinta dan sayang.

4.    Dwi Kartika Sari: Mengapa “tidak ada” bukan merupakan objek filsafat?”
Jawab: Yang tidak ada itu relatif, tergantung ruang dan waktunya. Yang tidak ada mempunyai kemungkinan menjadi ada. Yang tidak ada bisa dikategorikan menajdi yang mungkin ada. Yang tidak ada bisa dijadikan sebagai ikhtiar.

5.    Nurmanita Prima: Apa ciri-ciri guru yang galak?
Jawab: Ciri-ciri guru yang galak adalah mudah marah, toleransinya kecil dan suka memaksakan kehendak.

6.    Arlian Bety: Bagaimana menghadapi orang yang pelit dalam berbagi ilmu?
Jawab: Langkah pertama adalah dengan menggunakan komunikasi, namun jika orang tersebut tidak ikhlas membagi ilmunya maka jangan dipaksa. Selanjutnya sebaiknya kita mendoakan orang tersebut. Pelit itu berdimensi. Orang-orang di negara maju/ negara kapital maka mereka mulai menghargai apa yang orang pikirkan. Di Amerika ada istilah teacher pay teacher artinya guru membayar guru, maknanya adalah guru membuat karya dan disimpan dalam sebuah file, jika orang lain menghendaki untuk memilikinya maka orang lain tersebut harus membayar sejumlah uang. Namun bagi saya, saya sangat senang jika ilmu saya sangat bermanfaat oleh orang lain, maka sejauh ini saya tidak akan berpikiran semacam itu.

7.    Felisitas: Apa yang menyebabkan krisis multidimensi?
Jawab: Krisis multidimensi penyebabnya adalah berasal dari guru, sebab siswa tidak belajar secara alami sehingga siswa kehilangan intuisi, siswa dianggap tong kosong. Karena kehilangan intuisi maka kehidupan akan menjadi berantakan.

8.    Siti Subekti: Apakah yang dimaksud dengan permenitika?
Jawab: Permenitika adalah terjemah dan terjemahkan. Kalau dalam masyarakat kita adalah silaturahmi. Jadi kalau hendak mengajar matematika adalah sebagai guru hendaknya memfasilitasi dan membantu siswa untuk mampu bersilaturahmi dengan matematika.

9.    Rudy Prasetyo: Mengapa saya gemuk?
Jawab: Gemuk itu perlu diwaspadai. Godaannya adalah mudah ngantuk. Berfilsafat dapat membuat badan menjadi kurus, karena mengerti bisa menyebabkan tidak bahagia.
10. Aries Saputra: Menurut filsafat, apa hubungan antara mimpi dan khayalan?
Jawab: Cita-cita merupakan khayalan, namun khayalan belum tentu merupakan cita-cita. Maka cita-cita adalah khayalan yang bagus dan terstruktur, karena mempunyai alasan dan landasan. Misal, landasannya adalah orangtua. Cita-cita adalah khayalan yang bisa dipertanggungjawabkan.

11. Siti Zaenab: Apa pengertian sombong?
Jawab: sombong itu pengertiannya bertingkat, ada berdasar awam, psikologis  dan spiritual. Secara spiritual, sombong itu dekat dengan setan. Sombong itu dapat menjadi musuh terhadap diri kita.

MITOS DAN HAL GAIB DALAM FILSAFAT



            Awalnya kita harus bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk belajar filsafat, karena berfilsafat adalah sarana untuk merefleksikan diri. Berfilsafat dapat ditransformasikan sebagai makro dan mikro. Makronya adalah dunia secara keseluruhan sedangkan mikro adalah diri kita sendiri sebagai orang yang mempelajari filsafat. Kita dapat membongkar mitos seperti orang Yunani Kuno. Mitos adalah tidak mengerti maknanya namun kita melakukannya. Hampir 90% anak-anak belajar menggunakan metode mitos. Apakah makhluk goib itu mitos?
            Hidup itu merentang antara dua kutub yaitu yang ada dan yang mungkin ada atau yang nyata dan yang tidak nyata (gaib). Berbagai pengalaman-pengalaman gaib pasti pernah dirasakan atau dialami oleh setiap manusia. Terkadang sebagai manusia kita penasaran terhadap hal tersebut, maka kita ingin mencari tahu keberadaan hal-hal gaib itu. Semakin kita mencari maka kita akan mendapatkan hal yaitu bahwa kita harus sopan santun terhadap ruang dan waktu. Hal-hal gaib itu ada, sebab walau kita pikirkan secara rasional maka hal gaib tersebut tetap tidak akan terpecahkan secara nalar. Setinggi-tingginya pikiran manusia tidak akan dapat memecahkan sesuatu hal yang gaib. Satu-satunya cara dapat memecahkan hal-hal yang gaib tersebut adalah dengan keyakinan.
            Mitos itu berhubungan dengan intuisi, dan logos juga berhubungan dengan intuisi. Intuisi adalah pondasi dalam hidup kita. Dalam hidup ini 90% kita menggunakan intuisi dan sisanya 10% kita menggunakan pikiran secara rasional. Kalau kita kehilangan intuisi ruang maka kita akan kebingungan, misalnya kita salah arah di suatu daerah. Ketika kehilangan intuisi waktu adalah ketika kita tidak menyadari perbedaan waktu di suatu daerah.
            Hal yang sudah terjadi pada hidup ini adalah terbaik bagi diri kita, karena kita semua percaya terhadap takdir Allah. Tidak ada sedikitpun yang bukan merupakan karunia dari Allah. Oleh karena itu, maka kita harus dapat menerima semua hal yang telah terjadi pada diri kita sehingga kita dapat ikhlas menerimanya.
            Setiap orang pasti pernah mengalami mimpi dalam tidurnya. Salah satu faktor kita bermimpi dalam tidur adalah adanya kesan yang mendalam dalam kehidupan nyata. Kesan yang mendalam dan dipengaruhi oleh fisik yang kurang fit maka akan menyebabkan mengigau atau nglindur (istilah dalam bahasa Jawa).
            Orang dapat menilai orang dapat dilihat dari perilakunya sehari-hari. Setiap orang punya potensi negatif untuk menjadi berbahaya, namun hal tersebut dalam diminimalisir dengan arahan-arahan dari orang lain atau disadarkan oleh orang lain. Hal ini adalah ranah naomena, yaitu tidak bisa dilihat, diraba namun bisa dipikirkan.

RUANG DAN WAKTU DALAM BERFILSAFAT



                Berfilsafat itu adalah olah pikir. Sehingga olah pikir itu dapat olah pikir sendiri, olah pikir bersama-sama, olah pikir bangsa Indonesia, olah pikir akhirat dan sebagainya. Berfilsafat harus menggunakan referensi, yaitu pikiran para filsuf dalam karya-karya dalam buku-bukunya. Macam filsafat ditentukan oleh objek filsafat, yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Misal, objeknya adalah diri manusia maka filsafatnya adalah filsafat manusia, objeknya mengenai spiritual maka filsafatnya adalah filsafat spiritual.
                Berfilsafat dibagi menjadi dua objek yaitu berfilsafat terhadap objek yang ada di dalam pikiran dan berfilsafat terhadap objek yang ada di luar pikiran. Contoh: misal kita meihat suatu benda yaitu handphone, ketika kita melihatnya maka handphone itu ada di luar pikiran kita namun setelah kita memejamkan mata dan kita masih ingat dengan handphone itu maka handphone itu sekarang berada di dalam pikiran kita. Handphone yang ada di dalam pikiran itu bersifat ideal dan tetap, sedangkan yang diluar pikiran sifatnya berubah. Yang benar menurut ilmu adalah yang ada di dalam pikiran. Filsafat menurut objeknya, jika objeknya satu maka disebut dengan filsafat monoisme. Jika objeknya dua maka disebut dengan filsafat dualisme dan jika objeknya banyak maka disebut dengan filsafat pluralisme.
                Manfaat ketidaksempurnaan adalah dapat membedakan. Contohnya kita dapat membedakan yang dapat terbang dengan yang tidak bisa terbang. Menembus ruang dan waktu adalah jika digambarkan seaka-akan suatu makhluk yang luar biasa. Menembus ruang dan waktu adalah mengalami atau melakukan perubahan. Upaya menembus ruang dan waktu itu adalah berdimensi. Dimensi waktu adalah waktu yang berurutan, waktu yang berkelanjutan dan waktu yang berkesatuan. Dimensi ruang yaitu dimensi satu, dimensi dua dan seterusnya. Ruang adalah pikiran, meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Ruang itu terdiri dari wadah dan isi. Tanpa wadah kita tidak dapat menemukan isi dan tanpa isi kita tidak dapat menemukan wadah. Wadah dan isi saling berkaitan. Untuk mengetahui waktu harus menemukan ruang, begitu juga sebailknya. Sebenar-benarnya kita tidak dapat menemukan ruang dan waktu karena kedua hal itu hanya ada di dalam pikiran. Kita dapat menemukan ruang dengan menggunakan intuisi bukan menggunakan definisi.
                Ruang imajiner diri kita atau biasa disebut sebagai ruang saja. Ruang tersebut terdiri dari unsur material, formal, normatif, dan spiritual. Material adalah bentuk fisik diri kita. Formal itu adalah tulisan-tulisan resmi sedangkan material itu yang konkrit. Normatif adalah ilmunya, baik buruk, tata krama, dan jika ditingkatkan akan menjadi spiritual.
                Orang yang berilmu adalah orang yang sopan santun terhadap ilmu tersebut. Orang pendidikan matematika adalah orang yang sopan dan santun terhadap apa yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Santun itu berarti mengerti, menghayati kemudian mengamalkan dan kemudian merefleksikan. Jika kita sopan santun terhadap ruang dan waktu maka kita menempatkan spiritual ditempat yang paling atas. Dajjal adalah ketika bertemu dengan suatu sistem dan tidak menyukai sistem tersebut. Sehingga kita saling mendajjalkan satu sama lain. Kita tidak dapat memberikan batas, misal kita tidak dapat memberikan batas antara siang dan malam.
                Penyebutan diri kita berdasarkan ruang dimana kita berada. Misal kita berada dalam sebuah resepsi maka bisa jadi aku adalah tamu, panitia atau tuan rumah. Jika ruangnya adalah sepakbola maka aku adalah wasit, pemain sepakbola, penonton atau pelatih. Namun jika yang dibicarakan adalah materialnya maka aku adalah punggung, tangan atau kaki. Dan bila yang menjadi subjek pembicaraan adalah formal maka aku adalah tulisanku, karya-karya, ijasah atau KTP. Jika yang dibicarakan adalah normatif maka aku adalah sebenar-benarnya diriku. Dari sisi spiritual aku adalah doa-doamu, amal-amalmu. Yang mampu menembus ruang dan waktu bisa jadi sisi material, formal, material bahkan spiritual. Batu dan tanaman juga bisa menembus ruang dan waktu karena mereka juga tidak luput dari perubahan. Metode batu menembus ruang dan waktu sesuai dengan pikiran subjeknya.
                Hal-hal yang mendasar yang ada di dalam ruang dan waktu adalah yang pertama Pneomenologi adalah karya-karya cipta filsuf yang bernama Husserl. Pneomenologi paling banyak menggunakan orang matematika. Unsur dasar Pneomenologi ada dua yaitu abstraksi dan  idealisasi. Abstraksi adalah memilih atau reduksi dan idelaisasi adalah menganggap sempurna di bagian yang ideal. Sesuai dengan kodratnya manusia itu adalah memilih. Manusia juga mempunyai potensi untuk terpilih. Rumah epoke adalah tempat untuk hal-hal yang sedang tidak dipikirkan.
                Kedua, pemahaman tentang fondasionalism. Semua umat beragama adalah fondasionalism, karena menempatkan Tuhan sebagai Causa Prima yaitu sebab dari segala sebab, sebab utama dan pertama. Seluruh kaum matematikawan murni adalah kaum fondasionalism, karena membuat matematika menggunakan definisi. Dalam membangun keluarga fondamennya adalah ijab kabul.
                Ketiga, anti fondasionalism. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu membedakan besar dan kecil, itulah yang disebut dengan anti fondasionalism. Anti fondasionalism tidak memerlukan definisi. Anti fondasionalism kemudian disebut sebagai intuisi. Anak kecil itu belajar menggunakan intuisi bukan menggunakan definisi. Misal ketika mendefinisikan angka 2, kita menyebut bahwa 2 adalah bilangan genap, 2 adalah bilangan prima dsb. Maka sebenar-benarnya definisi angka 2 adalah menggunakan intuisi. Itulah permasalahan besar dalam matematika bahwa pembelajaran matematika berasal dari orang dewasa yang menggunakan definisi bukan dari anak-anak yang menggunakan intuisi. Sehingga anak menganggap matematika menyeramkan dan anak akan kehilangan intuisi dalam belajar matematika. Kehilangan intuisi dapat menyebabkan kerusakan dunia.

ALIRAN FILSAFAT


           Aliran filsafat tergantung dari obyeknya. Misalnya, jika obyeknya adalah alam maka filsafatnya adalah filsafat alam. Namun pemberian nama filsafat juga bisa diberi nama sesuai dengan nama tokohnya. Misalnya adalah Vegelianism, dia mengatakan bahwa adalah yang ada dan yang mungkin ada mensejarah, maka filsafat sejarah adalah Vegelianism. Tapi ada yang ditentukan dengan sifat, misalnya benda dalam pikir bersifat ideal, maka filsafatnya bernama idealisme. Ideal itu tetap, alirannya bersesuaian dengan permenidesialism. Plato sejalan dengan permenides. Bilangan itu tetap karena berada di dalam pikiran. Bilangan yang ada di luar pikiran itu adalah meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Bilangan lima bersifat plural, lima yang hijau, lima yang tebal, lima yang tipis, maka nama filsafatnya adalah realisme, tokohnya adalah Aristoteles.
          Filsafat juga ada yang diberi nama sesuai dengan aktifitasnya, misalnya bertanya. Soctares menemukan filsafatnya dimulai dari bertanya. Nama filsafatnya bernama dialektism. Kalau yang benar satu maka namanya monoisme, monoisme itu adalah Tuhan. Sedangkan kalau yang benar banyak yaitu urusan dunia. Pikiran itu dunia. Hati itu satu. Maka dunia itu bersifat plural, pluralism. Contohnya Jepang, mereka mempunyai banyak Tuhan misalnya Dewa Matahari, Dewa Laut dan sebagainya. Namun jika yang benar itu ada dua, yiatu benar dan salah maka alirannya bernama dualisme. Jika ukuran kebenaran adalah diriku maka bersifat subjektifism, namun jika diriku mengakui pendapat orang lain maka bersifat objektifism.
          Manusia tidak bisa terlepas dari kegiatan menentukan. Maka determine absolute adalah Tuhan. Orang yang suka menentukan sifat namanya determinis, misalnya adalah seorang politikus. Melihat, memikirkan adalah kegiatan determine. Determine sejalan dengan reduksi. Reduksi itu memilih, sedangkan kodrat manusia itu adalah memilih dan terpilih. Reduksi dan determine adalah metode yang sangat ampuh, namun bisa sangat berbahaya dan merugikan. Sangat berbahaya jika determine ini menutupi sifat yang lain, sehingga yang lain tidak berdaya. Duduk sama rendah berarti mencari kebenaran.
          Karena filsafat itu hidup, maka gunakan metode hidup untuk mempelajarinya. Metode hidup adalah bergaul, berinteraksi, membaca terus menerus. Jangan pernah menghafal, namun dalami setiap kalimat yang ada dalam filsafat. Filsafat bersifat transenden, yaitu diluar terbatas. Dewa itu yang ada dan yang mungkin ada terhadap sifat-sifatnya. Belajar filsafat itu adalah mempelajari komunikasinya para dewa. Filsafat itu berdimensi-dimensi sehingga filsafat itu tidak mudah. Misalnya dalam bahasa Jawa kata madang, maem, mangan digunakan oleh orang awam, sedangkan para dewa menggunakan kata dhahar. Orang yang bodoh adalah orang yang tidak tahu tata krama. Maka berfilsafat itu adalah sopan santun terhadap apa yang ada dan yang mungkin ada.
          Matematika itu benar ketika sedang dipikirkan namun ketika ditulis menjadi salah, misalnya 4 tidak sama dengan 4. Ucapan itu terbatas. Filsafat itu kontradiksi, namun kontradiksi dalam matematika dan filsafat itu berbeda. Dalam filsafat jika tidak bertanya dan berpikir maka dianggap tidak ada.
          Filsafat berbahaya ketika tidak ditempatkan pada konteksnya. Berbahaya jika orang berfilsafat itu parsial dan tidak kontekstual, sepenggal-sepenggal dan tidak utuh. Kalau utuh itu maka adil. Filsafat itu relfektif bagi orang dewasa dan mampu memikirkan. Tua belum tentu dewasa pemikirannya. 

Senin, 15 Oktober 2012

ALIRAN FILSAFAT, TOKOH DAN IDENYA


Oleh:
Arlian Bety Anjaswari
Pendidikan Matematika Subsidi 2009/09301241010


A.    PENDAHULUAN
     Filsafat adalah ilmu olah pikir. Dapat dikatakan pula bahwa  filsafat adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan mendasar (radikal). Kerapkali ilmu filsafat dipandang sebagai ilmu yang abstrak dan berada di awang-awang (tidak mendarat) saja, padahal ilmu filsafat itu dekat dan berada dalam kehidupan kita sehari-hari. Filsafat bersifat tidak konkrit (atau lebih bisa dikatakan tidak tunggal), karena menggunakan metode berpikir sebagai cara pergulatannya dengan realitas hidup kita.
     Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Selanjutnya karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh filsafat secara memuaskan.
     Seperti ilmu-ilmu yang lain, filsafat ini juga mengalami perkembangan. Hal ini seiring dengan perkembangan pemikiran manusia. Dalam perkembangan ini banyak tokoh-tokoh filsafat yang berkontribusi dalam perkembangan filsafat tersebut. Dimana pemikiran-pemikiran para tokoh itu masih dipelajari oleh manusia hingga sekarang ini.

B.     PEMBAHASAN
Dalam perkembangannya, filsafat dibagi kedalam empat jaman yaitu antara lain:
1.      YUNANI KUNO
          Yunani Kuno adalah peradaban dalam sejarah Yunani yang dimulai dari periode Yunani Arkais pada abad ke-8 sampai ke-6 SM, hingga berahirnya Zaman Kuno dan dimulainya Abad Pertengahan Awal. Peradaban ini mencapai puncaknya pada periode Yunani Klasik, yang mulai berkembang pada abad ke-5 sampai ke-4 SM. Peradaban Yunani Kuno juga sangat berpengaruh pada bahasa, politik, sistem pendidikan, filsafat, ilmu, dan seni, mendorong Renaisans di Eropa Barat, dan bangkit kembali pada masa kebangkitan Neo-Klasik pada abad ke-18 dan ke-19 di Eropa dan Amerika.
          Parmenides (540-470 SM) adalah seorang filsuf dari Mazhab Elea. Di dalam Mazhab Elea, Parmenides merupakan tokoh yang paling terkenal. Pemikiran filsafatnya bertentangan dengan Herakleitos sebab ia berpendapat bahwa segala sesuatu "yang ada" tidak berubah. Parmenides menuliskan filsafatnya dalam bentuk puisi. Ada ratusan baris puisi Parmenides yang masih tersimpan hingga kini. Puisi Parmenides terdiri dari prakata dan dua bagian. Dua bagian tersebut masing-masing berjudul "Jalan Kebenaran" dan "Jalan Pendapat". Bagian prakata dan "Jalan Kebenaran" tersimpan secara lengkap, yakni 111 ayat. Bagian kedua, "Jalan Pengetahuan", hanya tersimpan sebanyak 42 ayat.
          Socrates (470 SM - 399 SM) adalah filsuf dari Athena, Yunani dan merupakan salah satu figur paling penting dalam tradisi filosofis Barat. Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Socrates adalah yang mengajar Plato, dan Plato pada gilirannya juga mengajar Aristoteles. Peninggalan pemikiran Socrates yang paling penting ada pada cara dia berfilsafat dengan mengejar satu definisi absolut atas satu permasalahan melalui satu dialektika. Pengejaran pengetahuan hakiki melalui penalaran dialektis menjadi pembuka jalan bagi para filsuf selanjutnya. Perubahan fokus filsafat dari memikirkan alam menjadi manusia juga dikatakan sebagai jasa dari Sokrates. Manusia menjadi objek filsafat yang penting setelah sebelumnya dilupakan oleh para pemikir hakikat alam semesta. Pemikiran tentang manusia ini menjadi landasan bagi perkembangan filsafat etika dan epistemologis di kemudian hari. Sumbangsih Socrates yang terpenting bagi pemikiran Barat adalah metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu, Socrates dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga filsafat secara umum.
          Plato (428-348 SM) adalah Filsuf besar Yunani dan ilmuwan spekulatif, yang menegaskan bahwa filsafat atau ilmu merupakan pencarian yang bersifat perekaan (spekulatif) tentang seluruh kebenaran. Plato, dalam hal ini, memandang ilmu sebagai hal yang berhubungan dengan opini atau ajaran (doxa). Ia mengajarkan bahwa geometri merupakan ilmu rasional berdasarkan akal murni, yang berusaha membuktikan pernyataan-pernyataan (proposisi-proposisi) abstrak mengenai ide-ide yang abstrak misalnya; segitiga sempurna, lingkaran sempurna, dan sebagainya.
          Herakleitos adalah seorang filsuf yang tidak tergolong mazhab apapun. Di dalam tulisan-tulisannya,ia justru mengkritik dan mencela para filsuf dan tokoh-tokoh terkenal, seperti Homerus, Arkhilokhos, Hesiodos, Phythagoras, Xenophanes, dan Hekataios. Meskipun ia berbalik dari ajaran filsafat yang umum pada zamannya, namun bukan berarti ia sama sekali tidak dipengaruhi oleh filsuf-filsuf itu. Herakleitos diketahui menulis satu buku, namun telah hilang. Yang tersimpan hingga kini hanya 130 fragmen yang terdiri dari pepatah-pepatah pendek yang seringkali tidak jelas artinya. Pemikiran filsafatnya memang tidak mudah dimengerti sehingga ia dijuluki "si gelap" (dalam bahasa Inggris the obscure).
          Aristoteles (382-322 SM) lebih memahami ilmu sebagai pengetahuan demonstratif, tentang sebab-sebab utama segala hal (causa prima). Ilmu, dalam hal ini, bersifat; teoretis (ilmu tertinggi), praktis (ilmu terapan), dan produktif (ilmu yang bermanfaat), semuanya dalam kesatauan utuh (tidak bersifat ilmu majemuk). Aristoteles mempelajari berbagai ilmu, antara lain; biologi, psikologi, dan politik. Ia juga mengembangkan ilmu tentang penalaran (logika), yang dalam hal ini disebutnya dengan nama Analytika, yaitu ilmu penalaran yang berpangkal pada premis yang benar, dan Dialektika, yaitu ilmu penalaran yang berpangkal pikir pada hal-hal yang bersifat tidak pasti (hipotesis). Semua tulisan Aristoteles tentang ilmu tentang penalaran (Logika) itu ditulis dalam 6 (enam) naskah yang masing-masingnya berjudul; Categories, On Interpretation, Prior Analytics, Posterior Analytics, Topics, Sophistical Refitations.
          Jelasnya, perkembangan sejarah ilmu pada abad Yunani Kuno telah berkembang dalam empat bidang keilmuan, yaitu; Filsafat (kosmologi), ilmu biologi, matematika, dan logika dengan ciri perkembangannya masing-masing.

2.      ABAD PERTENGAHAN
          Filsafat pada abad ini dikuasai dengan pemikiran keagamaan (Kristiani). Puncak filsafat Kristiani ini adalah Patristik (Lt. “Patres”/Bapa-bapa Gereja) dan Skolastik  Patristik sendiri dibagi atas Patristik Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik Latin (atau Patristik Barat).  Tokoh-tokoh Patristik Yunani ini anatara lain Clemens dari Alexandria (150-215), Origenes (185-254), Gregorius dari Naziane (330-390), Basilius (330-379). Tokoh-tokoh dari Patristik Latin antara lain Hilarius (315-367), Ambrosius (339-397), Hieronymus (347-420) dan Augustinus (354-430). Ajaran-ajaran dari para Bapa Gereja ini adalah  falsafi-teologis, yang pada intinya ajaran ini ingin memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Ajaran-ajaran ini banyak pengaruh dari Plotinos. Pada masa ini dapat dikatakan era filsafat yang  berlandaskan akal-budi  “diabdikan” untuk dogma agama.
          Jaman Skolastik (sekitar tahun 1000), pengaruh Plotinus diambil alih oleh Aristoteles. Pemikiran-pemikiran Ariestoteles kembali dikenal dalam karya beberapa filsuf Yahudi maupun Islam, terutama melalui Avicena (Ibn. Sina, 980-1037), Averroes (Ibn. Rushd, 1126-1198) dan Maimonides (1135-1204). Pengaruh Aristoteles demikian besar sehingga ia (Aristoteles) disebut sebagai “Sang Filsuf” sedangkan Averroes yang banyak membahas karya Aristoteles dijuluki sebagai “Sang Komentator”.  Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman Kristiani menghasilkan filsuf penting sebagian besar dari ordo baru yang lahir pada masa Abad Pertengahan, yaitu, dari ordo Dominikan dan Fransiskan. Filsafatnya disebut “Skolastik” (Lt. “scholasticus”, “guru”), karena pada periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang baku dan bersifat internasional. Inti ajaran ini bertema pokok bahwa ada hubungan antara iman dengan akal budi. Pada masa ini filsafat mulai ambil jarak dengan agama, dengan melihat sebagai suatu kesetaraan antara satu dengan yang lain (Agama dengan Filsafat) bukan yang satu “mengabdi” terhadap yang lain atau sebaliknya.
          Sampai dengan di penghujung Abad Pertengahan sebagai abad yang kurang kondusif terhadap perkembangan ilmu, dapatlah diingat dengan nasib seorang astronom berkebangsaan Polandia  N. Copernicus yang dihukum kurungan seumur hidup oleh otoritas Gereja, ketika mengemukakan temuannya tentang pusat peredaran benda-benda  angkasa adalah matahari (Heleosentrisme). Teori ini dianggap oleh otoritas Gereja sebagai bertentangan dengan teori  geosentrisme (Bumi sebagai pusat peredaran benda-benda angkasa) yang dikemukakan oleh Ptolomeus semenjak jaman Yunani yang justru telah mendapat “mandat” dari otoritas Gereja. Oleh karena itu dianggap menjatuhkan kewibawaan Gereja.

3.      JAMAN MODERN
          Jembatan antara Abad pertengahan dan Jaman Modern adalah jaman “Renesanse”, periode sekitar 1400-1600. Filsuf-filsuf penting dari jaman ini adalah N. Macchiavelli (1469-1527), Th. Hobbes (1588-1679), Th. More (1478-1535) dan Frc. Bacon (1561-1626). Pembaharuan yang  sangat  bermakna pada jaman ini ((renesanse) adalah “antroposentrisme”nya. Artinya pusat perhatian pemikiran tidak lagi kosmos seperti pada jaman Yunani Kuno, atau Tuhan sebagaimana dalam Abad Pertengahan. Setelah Renesanse mulailah jaman Barok, pada jaman ini tradisi rasionalisme ditumbuh-kembangkan oleh filsuf-filsuf  antara lain; R. Descartes (1596-1650), B.Spinoza (1632-1677) dan G. Leibniz (1646-1710). Para Filsuf tersebut di atas menekankan pentingnya kemungkinan-kemungkinan akal-budi (“ratio”) didalam mengembangkan pengetahuan manusia.
          Pada abad kedelapan belas mulai memasuki perkembangan baru. Setelah reformasi, renesanse dan setelah rasionalisme jaman Barok, pemikiran manusia  mulai dianggap telah “dewasa”. Periode sejarah perkembangan pemikiran filsafat disebut sebagai “Jaman Pencerahan” atau “Fajar Budi” (Ing. “Enlightenment”, Jrm. “Aufklärung”. Filsuf-filsuf pada jaman ini disebut sebagai para “empirikus”, yang ajarannya lebih menekankan bahwa suatu pengetahuan adalah mungkin karena  adanya  pengalaman indrawi manusia (Lt. “empeira”, “pengalaman”). Para empirikus besar Inggris antara lain  J. Locke (1632-1704), G. Berkeley (1684-1753) dan D. Hume (1711-1776). Di Perancis JJ. Rousseau (1712-1778) dan di Jerman Immanuel Kant (1724-1804).
          Secara khusus ingin dikemukakan disini adalah peranan filsuf Jerman Immanuel Kant, yang dapat dianggap sebagai  inspirator dan sekaligus sebagai peletak dasar fondasi ilmu, yakni dengan “mendamaikan” pertentangan epistemologik pengetahuan antara kaum rasionalisme versus kaum empirisme. Immanuel Kant dalam karyanya utamanya yang terkenal terbit tahun 1781 yang berjudul  Kritik der reinen vernunft (Ing. Critique of Pure Reason), memberi arah baru mengenai filsafat pengetahuan.
          Dalam bukunya itu Kant memperkenalkan suatu konsepsi baru tentang pengetahuan. Pada dasarnya dia tidak mengingkari kebenaran pengetahuan yang dikemukakan oleh kaum rasionalisme maupun empirisme, yang salah apabila masing-masing dari  keduanya mengkalim secara ekstrim pendapatnya dan menolak pendapat yang lainnya. Dengan kata lain memang pengetahuan dihimpun setelah melalui (aposteriori) sistem penginderaan (sensory system) manusia, tetapi tanpa pikiran murni (a priori) yang aktif tidaklah mungkin tanpa kategorisasi dan penataan dari rasio manusia. Menurut Kant, empirisme mengandung kelemahan karena anggapan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia hanya lah rekaman kesan-kesan (impresi) dari pengalamannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan hasil sintesis antara yang apriori (yang sudah ada dalam kesadaran dan pikiran manusia) dengan impresi yang diperoleh dari pengalaman. Bagi Kant yang terpenting bagaimana pikiran manusia mamahami dan menafsirkan apa yang direkam secara empirikal, bukan bagaimana kenyataan itu tampil sebagai benda itu sendiri.

4.      JAMAN MODERN
          Pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas perkembangan pemikiran filsafat
pengetahuan memperlihatkan aliran-aliran besar: rasionalisme, empirisme dan idealisme dengan mempertahankan wilayah-wilayah yang luas. Dibandingkan dengan filsafat abad ketujuh belas dan abad kedelapan belas, filsafat abad kesembilan belas dan abad kedua puluh banyak bermunculan aliran-aliran baru dalam filsafat tetapi wilayah pengaruhnya lebih tertentu. Akan tetapi justru menemukan bentuknya (format) yang lebih bebas dari corak spekulasi filsafati dan otonom. Aliran-aliran tersebut antara lain:  positivisme, marxisme, eksistensialisme, pragmatisme, neokantianisme, neo-tomisme dan fenomenologi.
          Berkaitan dengan filosofi penelitian Ilmu Sosial, aliran yang tidak bisa dilewatkan adalah  positivisme yang digagas oleh filsuf A. Comte (1798-1857). Menurut Comte pemikiran manusia dapat dibagi kedalam tiga tahap/fase, yaitu tahap: (1) teologis, (2) Metafisis, dan (3)  Positif-ilmiah. Bagi era manusia dewasa (modern) ini pengetahuan hanya mungkin dengan menerapkan metode-metode positif ilmiah, artinya setiap pemikiran hanya benar secara ilmiah bilamana dapat diuji dan dibuktikan dengan pengukuran-pengukuran yang jelas dan pasti sebagaimana berat, luas dan isi suatu benda. Dengan demikian Comte menolak spekulasi  metafisik, dan oleh karena itu ilmu sosial yang digagas olehnya ketika itu dinamakan  Fisika Sosial sebelum dikenal sekarang sebagai Sosiologi. Bisa dipahami, karena pada masa itu ilmu-ilmu alam sudah lebih mantap dan mapan, sehingga banyak pendekatan dan metode-metode ilmu-ilmu alam yang diambil oleh ilmu-ilmu sosial yang berkembang sesudahnya. Pada periode terkini (kontemporer) setelah aliran-aliran sebagaimana disebut di atas munculah aliran-aliran filsafat, misalnya  : “Strukturalisme” dan “Postmodernisme”. Strukturalisme dengan tokoh-tokohnya misalnya Cl. Lévi-Strauss, J. Lacan dan M. Faoucault. Tokoh-tokoh Postmodernisme antara lain. J. Habermas, J. Derida. Kini oleh para epistemolog (ataupun dari kalangan sosiologi pengetahuan) dalam perkembangannya kemudian, struktur ilmu pengetahuan semakin lebih sistematik dan lebih lengkap (dilengkapi dengan, teori, logika dan metode sain), sebagaimana yang dikemukakan oleh Walter L.Wallace dalam bukunya  The Logic of Science in Sociology. Dari struktur ilmu tersebut tidak lain hendak dikatakan bahwa kegiatan keilmuan/ilmiah itu tidak lain adalah penelitian (search dan research). Demikian pula hal  ada dan keberadaan (ontologi/metafisika) suatu ilmu /sain berkaitan dengan watak dan sifat-sifat dari obyek suatu ilmu /sain dan  kegunaan/manfaat atau implikasi (aksiologi) ilmu /sain juga menjadi bahasan dalam filsafat ilmu. Setidaktidaknya hasil pembahasan kefilsafatan tentang ilmu (Filsafat Ilmu) dapat memberikan  perspektif kritis bagi ilmu /sain dengan mempersoalkan kembali apa itu: pengetahuan, kebenaran, metode ilmiah/keilmuan, pengujian/verifikasi. Dan sebaliknya hasil-hasil terkini dari ilmu /sain dan penerapannya dapat memberikan umpan-balik bagi Filsafat Ilmu sebagai bahan refleksi kritis dalam pokok bahasannya (survey of sciences) sebagaimana yang dikemukakan oleh Whitehead dalam bukunya Science and the Modern World.

C.    KESIMPULAN
     Filsafat adalah hasil pemikiran ahli-ahli filsafat atau filosof-filosof sepanjang zaman diseluruh dunia. Sejarah pemikiran filsafat yang amat panjang dibandingkan dengan sejarah ilmu pengetahuan, telah memperkaya khazanah (perbendaharaan) ilmu filsafat. Sebagai ilmu tersendiri filsafat tidak saja telah menarik minat dan perhatian para pemikir, tetapi bahkan filsafat telah amat banyak mempengaruhi perkembangan keseluruh budaya umat manusia. Filsafat telah mempengaruhi sistem politik, sistem sosial, sistem ideologi semua bangsa-bangsa-bangsa. Juga filsafat mempengaruhi sistem ilmu pengetahuan itu sendiri, yang tersimpul di dalam filsafat ilmu pengetahuan tertentu seperti filsafat huku, filsafat ekonomi, filsafat ilmu kedoteran, filsafat pendidikan dan sebagainya. Akhirnya yang pokok dari semua yiatu, filsfat telah mempengaruhi sikap hidup, cara berpikir, kepercayaan atau ideologinya. Filsafat telah mewarisi subyek atau pribadi sedemikian kuat, sehingga tiap orang menjadi penganut suatu faham filsafat baik sadar maupun tidak, langsung ataupun tidak langsung.

     Metode filsafat adalah metode bertanya. Objek formal filsafat adalah ratio yang bertanya. Sedang objek materinya ialah semua yang ada yang bagi manusia perlu dipertanyakan hakikatnya. Maka menjadi tugas filsafat mempersoalkan segala sesuatu yang ada sampai akhirnya menemukan kebijaksanaan universal.


DAFTAR PUSTAKA


Minggu, 14 Oktober 2012

BERKENALAN DENGAN FILSAFAT


Filsafat merupakan salah satu cabang ilmu yang dipelajari di dunia. Filsafat adalah ilmu olah pikir atau dapat dikatakan bahwa filsafat merupakan olah pikir yang refleksif. Filsafat meniru terminologi dunia yaitu, bahwa kata dunia bisa diletakkan di depan kata apapun misalnya dunia pendidikan, dunia anak, dunia remaja, dunia wanita dan lain sebagainya. Begitu juga dengan filsafat, filsafat bisa diletakkan di depan sembarang kata, contohnya filsafat matematika, filsafat tanah, filsafat tempe, filsafat Tuhan dan lain-lain.

Filsafat adalah ilmu yang multimuka atau multifaset. Artinya bahwa  filsafat adalah ilmu yang dekat dengan diri kita namun bisa juga menjadi jauh, bisa menghibur dan membuat bahagia serta bisa juga menjadi ilmu yang ringan bahkan bisa menjadi ilmu yang sangat berat. Semua itu bergantung pada cara pandang seseorang terhadap ilmu filsafat itu sendiri. Filsafat juga dapat dikatakan sebagai ilmu yang universal.

Belajar filsafat bisa juga diartikan sebagai belajar tentang tata cara atau belajar tentang adab. Belajar filsafat sama halnya ketika kita hendak melaksanakan sholat, kita harus bersuci terlebih dahulu karena Tuhan Maha Suci. Secara logika pun jelas kalau kita tidak suci maka ibadah kita tidak akan diterima. Begitu juga dengan belajar filsafat kita harus suci terlebih dahulu, dalam hal ini suci secara lahir dan batin. Tujuan orang belajar filsafat yaitu belajar tentang ilmu tata cara sehingga menjadikan orang tersebut menjadi orang yang beradab yaitu orang-orang yang memperhatikan tata cara. Sedangkan orang yang tidak memperhatikan tata cara disebut sebagai orang yang biadab.

Berfilsafat dapat didefinisikan secara bebas. Misal kegiatan menulis, secara pandangan filsafat kegiatan menulis ini bukan termasuk kegiatan berfilsafat karena ketika menulis kita jarang sekali berpikir. Dalam menulis kita menggunakan tangan bukan menggunakan otak, hal itu jelas sekali bertentangan dengan arti ilmu filsafat yaitu ilmu olah pikir.

Sama halnya dengan kegiatan-kegiatan lainnya yang mempunyai adab, maka ketika kita hendak melakukan kegiatan filsafat ada beberapa adab yang harus dipatuhi, yaitu:

Setinggi-tinggi ilmu filsafat tidak boleh melebihi ilmu spiritual/keyakinan.

                Adab yang pertama ini adalah adab yang paling utama. Sebelum berfilsafat sebaiknya kita berdoa terlebih dahulu, memohon ampun dan mohon petunjuk. Dan sesudah berfilsafat sebaiknya diakhiri dengan bersyukur dan mohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan berfilsafat ini bukan untuk menanyakan keberadaan Tuhan atau untuk melemahkan keyakinan terhadap Tuhan. Kegiatan berfilsafat dapat diilustrasikan sebagai berikut, ketika kita berfilsafat 1 langkah maka selanjutnya diimbangi dengan 10 langkah berdoa,  ketika kita berfilsafat 2 langkah maka selanjutnya diimbangi dengan 20 langkah berdoa begitu seterusnya.
               Untuk bertemu dengan Tuhan tidak cukup hanya dengan dipikirkan namun harus melewati hati dan keyakinan. Kalau kita hanya berpikir maka kita tidak akan tahu seluk beluk hati kita. Seluk beluk hati itu termasuk cinta dan kasih sayang. Cinta bukan hanya monopoli kaum remaja. Sehebat-hebatnya seseorang menyampaikan cintanya pada orang yang dicintainya maka sebenarnya dia belum selesai menyampaikan semua rasa cintanya kepada orang yang dicintainya tersebut.

Filsafat itu hidup
              Cara mempelajari filsafat adalah dengan menggunakan metode hidup. Metode hidup adalah metode untuk mempelajari sesuatu dengan cara melihat keluar, catat semua yang ada di bumi ini dan pelajari semua ciptaan Tuhan. Contohnya, bagaimana Tuhan menghidupkan tumbuhan, manusia bahkan alam semesta ini.
           Dalam hidup ini pasti ada dua sisi yang berjalan beriringan yaitu ada hidup sehat dan hidup tidak sehat, ada hidup bahagia dan hidup tidak bahagia. Begitu juga dengan filsafat, ada filsafat sehat dan ada pula filsafat yang tidak sehat. Sakit, datang tiba-tiba, tergesa-gesa, terpaksa, memaksa merupakan contoh hidup yang tidak sehat. Sedangkan hidup sehat adalah hidup orang beradab. Perhatikan tata cara agar hidup sehat dan ketika berfilsafatpun juga sehat.
               Bahasa yang digunakan dalam berfilsafat adalah bahasa analog. Bahasa analog adalah bahasa yang lebih tinggi daripada bahasa kiasan. Objek berfilsafat ada dua yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada adalah sesuatu yang dapat dilihat, didengar,dirasakan, dipikirkan atau disentuh dan juga dapat dikatakan sebagai sesuatu yang sudah diketahui dan yang ada dipikiran. Sedangkan yang mungkin ada adalah sesuatu yang belum diketahui dalam pikiran.

Membersihkan diri/berpikiran jernih
           Pada adab ketiga ini sebelum berfilsafat hendaknya kita harus membersihkan dari pikiran-pikiran yang mengganggu. Agar bisa berpikiran jernih maka badan harus bersih dan sehat. Kegiatan berfilsafat bukanlah kegiatan aliran sesat.
         Ilmu filsafat ini jika dinaikkan akan menjadi ilmu spiritual yang disertai dengan kitab-kitab. Jika diturunkan akan menjadi ilmu bidang yang dilengkapi dengan buku-buku pintar dan jika diturunkan lagi akan menjadi kegiatan yang berisi petunjuk-petunjuk teknis. Metode berfilsafat atau metode hidup disebut terjemah dan diterjemah. Hal ini berasal dari kata Hermenetika. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang artinya menterjemahkan dan diterjemahkan yang artinya berinteraksi tapi reflektif. Maka berfilsafat itu adalah interaksi yang refleksif. Semua yang ada di dunia ini pasti saling berinteraksi.
            Dalam hidup yang sehat pasti juga ada adab-adabnya. Ciri-ciri hidup sehat adalah tahu aturan. Hidup yang sehat secara filsafat adalah hidup yang harmoni atau hidup yang seimbang antara unsur-unsurnya. Harmoni identik dengan bahagia. Jadi jika ingin  bahagia maka hiduplah secara seimbang dan harmoni. Diam adalah kegiatan yang tidak seimbang karena inti dari kehidupan adalah usaha dan keikhlasan. Keikhlasan menerima di dalam usaha yang mengerti aturan spiritualnya. Hidup seimbang adalah hidup yang memikirkan urusan dunia dan akhirat. Yang mampu menghidupkan filsafat pada dirinya adalah diri mereka sendiri yaitu dengan cara berpikir berfilsafat.


 Dimulai dengan bertanya.
           Kegiatan berfilsafat itu dapat dimulai dengan kekaguman terhadap sesuatu yang kecil, yang sederhana dan yang terkadang bagi orang lain itu adalah sesuatu yang tidak penting.


 Sopan santun terhadap ruang dan waktu.
           Sopan santun terhadap ruang dan watu dapat pula dikatakan sebagai sopan santun kepada yang ada dan yang mungkin ada. Sopan santun dalam berfilsafat adalah dengan menyadari keberadaan filsafat dalam kehidupan. 

Penjelasan diatas merupakan ringkasan penjelasan ketika saya mengikuti perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika. Setelah menyampaikan materi perkuliahan ini kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab filsafat. Berikut ringkasannya:

Siti Subekti
Pertanyaan : kenapa kupu-kupu yang indah berasal dari ulat yang menyeramkan?
Jawab          : hal tersebut merupakan salah satu hukum alam. Sebagai manusia kita harus mensyukuri adanya hal tersebut. Hukum sebab akibat sudah merupakan kodrat dari Tuhan.

Yunia Indri H.
Pertanyaan : apa guna berfilsafat bagi mahasiswa pendidikan matematika?
Jawab           : guna berfilsafat sama dengan guna berpikir, karena ilmu filsafat adalah ilmu olah pikir.

Siti Zainab
Pertanyaan : apa kaitan antara belajar filsafat dan belajar matematika?
Jawab           : kaitannya adalah sama-sama berpikir.

Felisitas Sayekti
Pertanyaan : apa hakekat rumput yang bergoyang?
Jawab           : rumput yang bergoyang memiliki banyak arti, misalnya rumput ikut senang ketika aku senang, rumput ikut mendoakan langkahku, rumput memuji kata-kataku, rumput sediah atas perilakuku.

Fitria Yelni
Pertanyaan : apa hakekat roda yang berputar?
Jawab           : hakekat roda yang berputar adalah bergerak, bergerak itu berubah. Roda yang bergerak menunjukkan perubahan, namun ada sesuatu yang tetap yaitu pusat, jari-jari dan lingkaran, semua itu tidak bisa bertukar karena masing-masing telah mendapatkan jatahnya masing-masing. Jika hidup kita monoton maka hidup kita termasuk hidup yang parsial, dan hidup parsial adalah sumber ketidakbahagiaan.

Arlian Bety A.
Pertanyaan : apa hakekat kehilangan?
Jawab           : hakekat kehilangan adalah terlepasnya kuasamu terhadap sesuatu yang hilang itu. Semua yang telah terjadi adalah yang terbaik bagimu, itulah yang namanya takdir.

Dewi Cepsi
Pertanyaan : apa pentingnya berfilsafat?
Jawab           : pentingnya berfilsafat sama dengan pentingnya berpikir.

Rina S.
Pertanyaan : apa filsafat dapat mempengaruhi keyakinan seseorang?
Jawab           : sebaiknya dibalik bahwa keyakinan diri hendaknya mampu mempengaruhi orang dalam berfilsafat. Karena berfilsafat adalah pribadi. Jika ketika berfilsafat kita merasa risau maka berhentilah berfilsafat dan berdoalah kepada Tuhan mohon ampun dan mohon petunjuk.

Diakhir refleksi ini mahasiswa diwajibkan melampirkan pertanyaan filsafat kepada dosen filsafat. Dan pertanyaan saya yaitu:
Apa hakekat dari bersahabat?